Hope?

 "Kamu lihat cerahnya cakrawala itu? Setidaknya, seperti itulah harapan hidup seseorang. Mereka pasti mengharapkan sesuatu yang cerah seperti cakrawala tersebut".

Perkataan itu terngiang kembali ketika ku menatap cakrawala tersebut.

"Apa hubungannya dengan ku?"

"Heh, kamu itu terlalu terpaku sama pemikiran-pemikiran tidak jelasmu itu. Do it, rangkailah harapan hidup seterang cakrawala itu"

Lagi. Percakapan beberapa bulan lalu dengannya, kembali terngiang

"Hah, kamu bodoh ya... setelah kamu memberikan wejangan seperti itu kepadaku, kamu malah pergi"

Helaan nafas terdengar hingga ke telinga Ku. Ku pandang kembali cakrawala di atas sana. Biru, bersih, dan cerah. 

"Akan kuberi tahu kamu sesuatu. Aku... punya harapan hidup seindah cakrawala. Mau tau apa?"

Dia menolehkan kepalanya padaku, dengan senyum setenang telaga.

"Apa itu?" 

Senyum itu terlihat makin cerah. Bahkan.. ku dapat melihat lubang cantik di kedua sisi bibirnya.

"Aku bisa tertawa, bergembira, bermain, dengan seluruh teman dan keluargaku tanpa khawatir apa yang terjadi pada esok hari."

Ucapnya membuatku tertegun. Aku tahu... harapan itu terlalu mustahil untuk dirinya yang sekarang. Apalagi.. hidupnya saat ini, bergantung dengan obat-obatan miliknya. 

Hela nafasku sepertinya terdengar hingga ke telinganya. Terlihat wajah kecewa darinya.

"Kenapa? Kamu berpikir bahwa itu mustahil bukan? Yah.. aku tahu. Dengan keadaanku sekarang.. harapan hidup seperti itu hampir mustahil. Tapi.... aku gak mau melepas harapan hidup itu Na, karena dengan begitu... aku masih mau meminum obat dan menjalani rangkaian penyembuhan oleh dokter..."

Ia mengatakannya dengan senyum secerah mentari. Aku melihat harapan itu dari senyumnya. Bahkan.. aku yakin, seberapa besar badai itu.. harapannya tetap sama, hingga tuhan memberikan keputusannya.

ku tadahkan wajah menuju cakrawala yang cerah tersebut. lucu sekali semesta pikirku. Mereka memang jagonya mempermainkan takdir manusia,

"Lihat, mereka bahkan terlihat bahagia setelah membuatmu terbaring dalam tanah basah itu, mereka menghiraukan segala pilu yang didapat oleh mereka yang selalu disisimu..."

tawa pilu terdengar pelan hingga ditelingaku. Ku alihkan pandangan ke sekitar, sepi... sunyi.. seperti dirimu yang tak mungkin menjawab segala perkataanku. Ku meraba kembali tanah basah yang beberapa saat lalu telah menelanmu di dalamnya. Ku pandang kembali nisan sederhana, yang hanya menyantumkan nama dan tanggal hembusan nafas terakhirmu. 

"Kata mereka, nisan terbaikmu sedang dalam proses Ta, kata mereka... di nisanmu nanti tertulis nama lengkap mu, sekaligus binti dan juga tanggal kamu lahir hingga wafat Ta.."

"Kamu tahu kan, aku bahkan kalau tidak memakai ring ini hidupku pasti akan berakhir. menunggu donor? itu sepertinya harapan terahir yang dapat terwujud. Kamu tahu juga kan, kalau tidak hanya aku yang memerlukan jantung baru untuk bertahan hidup. Haah... bahkan, aku ada di urutan ke seratus sekian dari daftar penerima donor jantung. Tapiii kamu tauhu kan, kalau aku tidak selemah itu? jadi, kamu mau kan membantuku.. untuk mewujudkan daftar keinginanku di buku ini?"

kau memperlihatkan buku bersampul biru itu kepadaku, lengkap dengan senyum manismu. Ku terima dengan segala perasaan campur aduk di dalamnya. Ku buka lembar demi lembar halaman buku, hingga terdapat daftar yang dirimu maksud.

Tidak banyak, hanya tiga permintaanmu. Bahkan aku cukup terkejut, karena ternyata tidak se aneh, atau se rumit yang kupikirkan. Bermain di taman bermain, melihat hewan-hewan oh bukan.. tapi Panda di kebun binatang, dan mungkun yang terakhir agak sedikit memakan waktu ya, tapi masih terlampau mudah untukku. jalan mengelilingi wilayah kota dengan kendaraan umum.

sungguh imut permintaanmu Ta, pikirku saat itu. 

"Bahkan Ta, keinginanmu yang kedua itu belum terwujud. Sayang sekali ya, kamu cuman bisa melihat Panda melalui gambar.. hehe, tapi pasti sekarang kamu dapat melihat panda secara langsung kan?"

Aku terdiam selama beberapa saat, aku kembali mengingat raut wajahmu yang terlihat tenang untuk terakhir kalinya sebelum dokter menyatakan bahwa kamu telah pergi.

"Aku sedih Ta, tapi aku juga senang.. kamu pasti sudah tidak merasakan sakit kan? kamu sudah tidak akan lagi menangis setiap malamnya menyesali hidupmu, gak bakalan lagi mendengar omelan orang-orang tersayang tentang keadaanmu."

Ku ambil buku bersampul birumu dari dalam tas ku, dan kubuka lembar terakhir buku itu. Ada coretan perkataan yang dituliskan olehmu.

"Lihat, ini adalah tulisan yang kamu bilang padaku untuk melihatnya sebelum aku ke tempat peristirahat terakhirmu. heh, gak ku sangka, tulisanmu ini.. mengenai harapanmu untukku. Se sayang itu ya, kamu denganku Jelita Maharani?"

"Jawabanku untuk tulisan ini.. untuk sekarang belum bisa ya.. mungkin.. 2 minggu atau 4 minggu lagi baru akan kuwujudkan. Aku pamit dulu ya, sudah mau gelap. Dadah.... istirahat yang tenang.."

ku seka sisa air mata di pipiku, dan ku pergi berbalik meninggalkan wilayah pemakaman yang sepi itu.

'Untuk sahabatku Tina Mahesa... aku harap kesedihanmu tidak berlarut, ingat yaaa kamu harus bisa sehebat cakrawala di sana! aku selalu mendukungmuu. semangaaat!! -dari sahabat tersayangmu, Jelita'


__


Komentar

Postingan Populer