Cerah yang Mendung

Cerah yang Mendung

Karya: AnggrekJen

 

Aku melihatnya sedang duduk termenung di bawah pohon rindang itu. 

"Sepertinya dia salah tempat deh, kalau mau merenung itu jangan di bawah pohon tengah-tengah taman begitu.. diliatin orang-orang kan jadinya, ck" ungkapku melihat tingkah anehnya kali ini.

Ku hampiri dirinya, dan melihat sekacau apa keadaan dirinya. wajah murung, penampilan berantakan, bahkan aku dapat melihat jejak air mata di kedua pipinya.

"Kali ini seberapa kacau?" ungkapku ketika sudah berdiri di hadapannya.

Dirinya mendongak melihat ke arahku. oh, lihatlah tatapan itu. Seolah sudah tidak ada harapan hidup di sana. Dia tak mengucapkan apapun, dan kuasumsikan kali ini masalahnya sangatlah rumit. Kuputuskan duduk di sebelahnya dan mulai memandang langit biru yang sangat kontras dengan suasana insan disebelahku.

"Kamu tahu, setidaknya pilihlah tempat yang tidak mencolok. Lihat, mereka melihatmu semua. Apa yang kamu inginkan dari mereka? rasa kasihan?" ungkapku kemudian melihat ke arahnya.

Terlihat raut terkejut dari dirinya. Ekspresi itu cepat berubah, baru saja aku melihat ekspresi terkejut kini ekspresi murung kembali ia perlihatkan.

"Kalau kamu tidak suka, pergi saja sana" ujarnya ketus.

Aku terkekeh mendengar penuturannya. Ku arahkan pandanganku kembali ke langit biru itu. Helaan nafas kukeluarkan. Mungkin saja dia bisa mendengar helaan nafas yang terdengar cukup keras bahkan untuk indera pendengaranku.

"Kali ini apa? ini bukan pertama kalinya kamu seperti ini. Ingat, penawaranku masih berlaku. Aku masih menjadi pendengarmu. Kamu tidak lupa hal itu kan? jadi.. kali ini apa?" 

Sengaja tak ku pandang lagi wajahnya, aku hanya ingin membuatnya nyaman. Dari ekor mataku, aku merasa dirinya tengah memperhatikanku.

"Kamu tidak malu, dilihat sama mereka? tadi kamu bilang aku aneh. Merenung di tempat yang mencolok"

Aku terkekeh mendengar jawabannya. Ya ampun, masih saja anak ini menanyakan hal tidak penting tersebut.

"Buat apa malu? ini tempat umum kan... kita bebas ingin berbuat apapun di sini. Toh mereka juga tidak ada yang mengenalku. " ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari langit biru.

Diam, tidak ada tanggapan dari insan di sebelahku. Tiga menit berlalu, dan hanya diisi oleh suara angin dan dahan kayu penuh daun yang bergesekan karena angin memenuhi suasana sekitar. Tak lupa, suara anak-anak bermain, serta beberapa suara percakapan disekitar terdengar menemani hening di taman kompleks ini.

Helaan nafas terdengar disebelahku, dan kurasa helaan nafas tersebut menanggung beban yang tidaklah sedikit.

"Kamu tahu orangtuaku tidak akur bukan?" 

Terkejut mendengar dirinya berbicara, ku alihkan pandanganku ke arahnya. Dirinya ternyata sedang memeluk kedua lututnya dan menunduk ke arah tanah. Entah apa yang menarik dari hal itu. Deheman kuberikan sebagai respon dari ucapannya. Sepertinya, dia lebih nyaman bercerita sambil menunduk seperti itu.

"Semalam, rumah berisik lagi dan akhirnya kata-kata itu terucap Jen... Ibu meminta pisah dari Ayah, dan yeah seperti yang sudah kuduga. Ayah menyetujuinya. Lucunya, mereka mengatakannya itu pada saat ada aku di sana Jen, aku ada di dapur. Iya, mereka bertengkar depan anak mereka. Mereka seolah tidak peduli dengan keberadaanku."

Terdengar helaan nafas lagi dari dirinya. setelahnya, dirinya melihat langit sekilas lalu menunduk dan melanjutkan ceritanya. 

"Memang, kata-kata itu sudah kuharapkan muncul setelah sekian lama. Tapi ternyata tetap sakit ya? bahkan malam itu aku berharap bahwa kata-kata itu terlontar oleh mereka karena mereka sedang emosi. Namun lagi-lagi aku salah Jen.. tadi pagi, saat kita duduk di meja makan untuk sarapan. Ibu mengatakan hal itu lagi. Bahkan aku tidak mendengar nada sedih dari suara Ibu."

Tak sekalipun aku mengalihkan pandanganku dari dirinya. dirinya terlihat sangat rapuh kali ini. Nada suaranya pun, seperti sedang menahan tangis. Refleks, ku gerakkan tangan kiriku untuk mengusap bagian belakang kepalanya guna menenangkannya.

"Kalau gak kuat, gak usah dilanjut ya.. aku paham point cerita yang ingin kamu sampaikan. Di satu sisi kamu senang akhirnya tidak akan ada lagi yang tersakiti, tapi di satu sisi kamu merasa sedih karena tidak akan pernah bisa mendapatkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuamu. Hangatnya keluarga tidak akan pernah kamu rasakan lagi. begitu kan?" ucapku setelah kuhentikan usapan dikepalanya.

Kulihat ia mengangguk mengiyakan. Ku genggam tangannya, kemudian mengangkat wajah yang tertunduk itu untuk melihat ke diriku. Kedua netra tersebut menatapku, dan telah merkilau seolah siap menjatuhkan air yang terdapat di dalamnya. 

"Kamu gak perlu takut kekurangan kasih sayang ya.. aku yakin Ayah Ibumu juga pasti berat mengambil keputusan itu. Lalu, aku juga yakin mau nanti kamu ikut Ayah atau Ibumu.. pasti mereka akan berusaha mengisi kehangatan keluarga yang sebelumnya ada. Walau akan sedikit berbeda, tapi aku yakin kehangatan itu akan tetap ada. Percaya sama aku. Sekarang.. kalau kamu mau-"

Perkataanku terputus karena dirinya yang kembali menunduk. Kudengar isakkan tangis dari dirinya. Kulihat, bahu itu terguncang hebat. Langsung saja kupeluk dirinya, dan membiarkan dia menangis dalam pelukku.

"Gak apa.. nangis aja.. ssttt.. keluarin semua yaa.." ucapku sambil merengkuhnya dalam peluk.

Suara tangisan itu makin nyaring terdengar. Kuusap kembali belakang kepalanya untuk menenangkannya.

"Terkadang, menangis itu bisa membuat perasaan kita lega. Jadi, nangis saja yaa..."

Semenit berlalu, dan suara isakan tangisnya mulai berkurang. langsung saja kulepaskan rengkuhan tersebut dan menatap ke dalam dua manik yang sembab tersebut. Ku usap sisa air mata dipipinya, dan kuberikan senyum terbaikku untuknya.

"Kamu hebat, bisa bertahan sampai saat ini. Jangan menyerah yaa, pasti setelah ini ada pelangi dalam hidupmu. Sekarang sudah lebih baik?" tanyaku.

Kulihat dirinya mengangguk kecil sambil mengalihkan pandangannya. Sepertinya ia tengah menahan malu karena baru saja menangis dihadapanku. Lucu sekali.

"Ya sudah, kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita beli es krim? kata orang, es krim bisa membuat perasan kita jadi lebih baik looh" ujarku.

Ku berdiri dari posisiku, dan mengulurkan sebelah tanganku untung membantunya berdiri. Dirinya menerima uluran tangan tersebut dan berhasil berdiri. Sengaja tak ku lepas genggaman tangan ini, dan akupun membawanya untuk membeli es krim di seorang penjual es krim di pinggiran taman ini.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer