Korban Bulliying, Bukan Berarti Tidak Mampu Bangkit
Hujan deras kala itu, dia, wanita tangguh yang berhasil bangkit dari keterpurukan selama hidupnya. Sebelum melanjutkan lebih jauh, saya telah meminta izin padanya apakah tidak apa mengumbar kehidupannya. Dia bilang tidak apa, hitung-hitung, sebagai motivasi untuk para pejuang korban bulliying diluaran sana. Namanya Dea Dita Damayanti, teman-temannya memanggil dirinya dengan sebutan “Dea”.
Jujur, saya cukup salut dengan perawai pembawaan dirinya
hingga menjadi seperti sekarang ini.benar kata orang, seseorang tidak akan
berubah sebelum ia mengalami pegalaman yang sangat buruk dan membekas dari
hidupnya.
Ia tidak berasal dari keluarga yang terbilang
harmonis. Bisa di bilang, ia merupakan anak Broken
Home, namun saya tidak akan menerangkan lebih lanjut perihal cerita
keluarganya, itu cukup privasi, yang bisa saya beritahu adalah, ia saat ini,
hanya hidup dengan sang ibu, yang ternyata menderita penyakit Skizofrenia. Skizofrenia merupakan penyakit mental dimana penderitanya mudah
mengalami halusinasi, atau membuat dunia baru dalam hidupnya. Karena keadaan
inilah, dirinya pada usia muda, tepatnya ketika ia menduduki bangku sekolah
dasar, ia mengalami pembullian oleh teman-temannya di sekolah dan juga
tetangga-tetangga rumahnya.
Pembulian
seperti apa?
“Ih mama kamu sakit jiwa, gak pernah datang ke
sekolah ambil rapot ya” ucapnya dengan
meniru suara anak-anak ketika membulli temannya di sekolah.
Karena hal inilah ia akhirnya sering berpindah-pindah
sekolah di masa kecilnya, ketika ia belum menemukan jati dirinya yang
sekarang. Ia bahkan merasa bahwa
orang-orang di lingkungan sekitarnya, tidak menerima kehadirannya, merasa semua
orang tidak bisa menerima kondisi dirinya.
“Bahkan mereka pernah sampai ngegembosin sepeda aku,
melakukan pelecehan seksual (dicium paksa, bahkan hampir merobek pakaian)
bahkan aku sudah bercerita ke ketua kelas, namun tidak ada yang percaya, dan
ketika ada teman yang mengalami hal yang sama, barulah berani di speak up, bahkan
sempat melibatkan polisi saat itu. Sayangnya, pelaku tidak di penjarakan
melainkan hanya terkena hukuman untuk efek jera”. Mendengar pernyataannya ini,
kemungkinan pelaku tidak di penjara, karena pelaku masih berada di bawah
umur,sehingga tidak ada pasal ataupun tindakan hukum yang dapat menjeratnya.
“Dan yang paling buruk dari pembullian ini, saat aku
SMP, aku dilabrak, diseret, terus saat aku melapor ke BK, guru-guru BK itu lagi
pada sibuk, sehingga tidak mengindahkan laporanku, dan ketika aku pulang, aku
sempat dicegat sama mereka, terus dipukulin dengan tongkat Baseball, dan karena itulah ketika aku SMA aku memutuskan untuk Homeschooling di Homeschoolingnya kak Seto di Surabaya”
Dirinya mengalami pembullian ini hingga menginjak
bangku SMP. Sebagaimana korban bulliying yang lain, Dea juga pernah mengalami
yang namanya Mental Illnes, sebagai
efek dari pembullian tadi.
“Paling parah mental
illnes yang aku lakuin sih kayak Self
Harm gitu, bahkan aku pernah mau bunuh diri dengan meminum cairan pembersih
lantai, bahkan aku memimun sekitar delapan pil obat sekaligus saat itu.”
Sungguh, ketika mendengar ceritanya, saya cukup
prihatin dengan dirinya, saya tidak pernah bisa membayangkan menjadi dirinya.
hingga ia akhirnya menemukan titik balik kehidupannya, yakni ketika ia
berkenalan dengan seorang teman. Dari temannya inilah ia berhasil bangkit
menjadi ‘Dea’ yang sekarang kita jumpai,
mejadi ‘Dea’ yang baru.
“Yang buat aku berhasil bangkit, karena aku pernah
hampir mengalami kegagalan, hampir mencoba bunuh diri, karena pada saat itu
posisi aku lagi emosi, sehingga apa yang kupikirkan saat itu langsung aku
lakuin. Padahal jika kita lagi emosi, saat lagi down, kita tidak boleh melakukan apa yang terlintas dipikiran saat
itu. Sekarang aku bisa bertahan, karena aku jauh lebih mampu mengendalikan
diriku sendiri, aku tahu cara men-survive
diri aku.” jawabnya ketika saya bertanya alasan mengapa ia bisa bangkit seperti
sekarang.
Melihat perjuangannya hingga ia bisa menjadi seperti
sekarang, pasti sangat tidak mudah. Satu hal yang diyakini olehnya, dan juga
mungkin oleh seluruh umat manusia, bahwa sejatuh-jatuhnya diri kita, pasti
masih ada satu dua orang yang peduli terhadap diri kita. Tidak seharusnya kita
merasa terpuruk dengan hal itu. Terpuruk boleh, namun setelahnya bangkitlah dan
silahkan melanjutkan kehidupanmu.
“Dari apa yang aku alamin, kita tidak boleh membulli
kehidupan seseorang, karena kita tidak tahu proses hidup dirinya bagaimana,
perjalanan hidupnya dia bagaimana, bahkan jika itu menyangkut lingkungan
keluarganya, dan ketika anak tersebut mengalami mental illnes akibat
pembullian, bukan makin di pojokkin, tetapi kita harus merangkul mereka,
bayangin aja, ketika kamu sedang luka, dan ditambahin luka oleh orang lain,
kamu pasti akan depresi. Jangan memandang remeh depresi,karena depresi
merupakan awal dari sesuatu yang buruk”
Jawabnya, ketika saya bertanya, saran apa yang sekiranya
bisa kamu berikan kepada orang-orang diluaran sana, terutama untuk para
pembulli. Cerita dari dirinya terhenti tepat setelah rintikan air yang jatuh ke
bumi terhenti. Seolah semesta ikut merasakan bagaimana kesedihan seorang Dea.
Ketika ditanya asal sekolahnya, ia tidak berani memberitahu, ia tidak ingin
mencoreng nama baik sekolah tersebut. Lagi pula kasus ini sudah sangat lama,
jadi tidak perlulah diberitahu.
Sekarang, dia sudah berumur di atas 20 tahun, dan
dia telah menjadi sesosok wanita yang kuat dalam menjalani kehidupannya. Semoga saja ia selalu mendapat kebahagiaannya
di kehidupannya yang sekarang, sudah cukup enam belas tahun ia mengalami
penderitaan-penderitaan tersebut. Setiap manusia berhak mendapatkan kebahagiaan
bukan?

Komentar
Posting Komentar